INDORAYATODAY.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan penyesuaian daftar penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 80 sekolah swasta elite dan sekolah berasrama di seluruh Indonesia resmi dikeluarkan (exclude) dari alokasi program bantuan tersebut.
Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil setelah pemerintah melakukan evaluasi dan penyisiran ulang.
Sekolah swasta elite dinilai telah memiliki kapasitas finansial mandiri untuk memenuhi kebutuhan gizi para siswanya tanpa memerlukan intervensi anggaran negara.
“Beberapa sekolah swasta yang memang swasta elite, yang saya kira tidak membutuhkan MBG, ada 80-an sekolah se-Indonesia yang kita exclude untuk tidak terima MBG,” kata Sudaryono dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (30/8/2026).
Pengecualian ini juga berlaku untuk sekolah berbasis asrama (boarding school) yang sudah mengintegrasikan pemenuhan gizi ke dalam fasilitas internal. Beberapa sekolah ternama yang dikonfirmasi tidak lagi menerima alokasi MBG antara lain:
Jakarta Intercultural School (JIS)
Sekolah Cikal
SMA Taruna Nusantara
Sekolah Kemala Bhayangkari
Sekolah Taruna Bhayangkara
Masyarakat juga dapat memantau status kepesertaan sekolah secara transparan melalui platform Radar MBG.
Pengawasan Operasional Dapur SPPG Diperketat
Di samping penyesuaian target penerima, pemerintah turut memperketat pengawasan operasional di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menargetkan sebagian besar kendala operasional MBG dapat terselesaikan sebelum 20 Oktober 2026.
Sebagai bagian dari pembenahan, BGN menerapkan aturan ketat bagi penanggung jawab lapangan. Kepala SPPG kini diwajibkan berada di lokasi dapur produksi mulai pukul 02.00 hingga 08.00 WIB guna mengawal kualitas pengolahan makanan.
Kehadiran fisik kepala SPPG akan dipantau secara langsung melalui sistem absensi terintegrasi dan pemantauan kamera secara real-time untuk mencegah risiko kontaminasi maupun kesalahan prosedur pengolahan pangan.

Tinggalkan Balasan