INDORAYATODAY.COM – Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menanggapi isu mahalnya harga buku di Indonesia. Harga buku di Indonesia, baik lokal maupun impor, dinilai mahal karena dikenakan pajak sebesar 11 persen.

Menurutnya, hal terpenting yang perlu menjadi fokus adalah bagaimana menumbuhkan kembali minat baca, terlepas dari tantangan digitalisasi.

Fadli Zon menekankan pentingnya menghidupkan ekosistem literasi di dalam negeri terlebih dahulu. Ia mengakui, digitalisasi menjadi tantangan besar yang menyebabkan menurunnya penerbitan buku fisik, namun gejala ini juga terjadi di banyak negara.

“Sebenarnya kita berharap di dalam negeri dulu ya ekosistemnya dihidupkan kembali. Karena memang tantangan-tantangan kita ini adalah digital,” jelas Fadli Zon di JCC, Jakarta, Rabu (24/9/2025).

Ia menambahkan, di Eropa pun ada upaya untuk kembali mengajak anak muda membaca buku cetak, bukan hanya buku digital. Hal ini menunjukkan bahwa peran buku fisik masih dianggap penting.

Menurut Fadli, upaya untuk memajukan peradaban harus dimulai dari kesadaran untuk membaca.

Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, menyebut pajak tersebut membuat buku menjadi “barang mewah” dan menghambat ekosistem literasi.

Willy membandingkan harga buku di luar negeri yang setara dengan upah satu jam kerja, berbeda dengan Indonesia di mana masyarakat masih harus berpikir ulang untuk membeli buku.

BACA JUGA:  Dasco Dinilai Mampu Ubah Citra DPR Jadi Lebih Ramah Gen Z