INDORAYATODAY.COM – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata 48 jam yang diajukan Amerika Serikat (AS) pada 2 April lalu. Alih-alih merespons secara diplomasi, Teheran membalas “di lapangan” melalui serangan drone dan rudal besar-besaran yang menargetkan aset militer AS dan Israel di kawasan.

Kantor berita Fars melaporkan bahwa tawaran gencatan senjata tersebut muncul di tengah meningkatnya kerugian personel dan infrastruktur AS, termasuk serangan terhadap depot militer di Pulau Bubiyan, Kuwait. Penolakan ini menegaskan sikap keras Iran pascaserangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu yang menelan ribuan korban jiwa.

Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi pelaksanaan “Gelombang 93” dari Operasi Janji Sejati 4 pada Jumat petang. Serangan gabungan dengan Hizbullah ini menggunakan kombinasi rudal berbahan bakar padat-cair dan drone bunuh diri ke pusat dukungan tempur di Galilea Barat, Haifa, dan Krayot.

Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut tanpa henti. “Kami memperingatkan, serangan akan menyasar sektor energi, pusat ekonomi, hingga pembangkit listrik di wilayah pendudukan dan negara sekutu AS jika infrastruktur sipil kami terus ditargetkan,” tegas Zolfaghari, Sabtu (4/4/2026).

Dalam pesan tajamnya, Teheran mengeluarkan ultimatum kepada negara-negara regional yang masih menampung pangkalan militer AS. Iran mendesak negara-negara tetangga untuk segera menarik izin pangkalan Amerika jika tidak ingin terseret dalam dampak kerusakan konflik yang lebih luas.

Upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan, Qatar, hingga Turki dilaporkan menemui jalan buntu. Teheran bersikeras pada tuntutan penarikan total pasukan AS dari Timur Tengah serta kompensasi atas kerusakan infrastruktur sipil di Iran.

Perang terbuka ini telah memicu krisis kemanusiaan hebat. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 1.900 orang tewas di Iran, sementara di Lebanon selatan, korban jiwa mencapai 1.345 orang. Konflik ini juga memakan korban di pihak militer AS dengan 13 tentara dilaporkan gugur, serta puluhan personel militer dari Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait akibat serangan balasan Iran ke pangkalan-pangkalan regional.

BACA JUGA:  Hari Pertama Menjabat, Wali Kota New York Zohran Mamdani Cabut Kebijakan Pro-Israel

Intelijen AS menilai Iran masih memiliki sekitar setengah dari total peluncur rudal dan drone kamikaze miliknya, mengindikasikan bahwa Republik Islam tersebut telah bersiap untuk konflik berkepanjangan yang akan terus mengganggu pasar energi dan jalur penerbangan global.