INDORAYATODAY.COM – Kehadiran film dokumenter Pesta Babi yang mengkritik Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate di Merauke, Papua Selatan, menuai respons dari pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indeks Data Nasional, Ayip Tayana. Ia meminta publik tidak buru-buru menghakimi realitas di Papua hanya dari satu sudut pandang film.

Ayip menilai narasi bahwa Papua sedang dijajah oleh proyek pangan tersebut merupakan cara pandang yang keliru dan berbahaya karena mengarah pada delegitimasi negara. Menurutnya, negara justru terus berupaya membangun Papua secara masif melalui dana Otonomi Khusus (Otsus), infrastruktur jalan, bandara, rumah sakit, hingga jaringan internet.

“Papua tidak boleh terus dikunci dalam narasi ketertinggalan dan eksploitasi. Masyarakat Papua juga berhak menikmati kemajuan. Isu Food Estate ini berkaitan dengan kedaulatan pangan nasional agar kita tidak terus bergantung pada impor,” ujar Ayip di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Kendati demikian, Ayip menegaskan bahwa proyek Food Estate ini tetap harus dikawal secara ketat. Pemerintah wajib memastikan keterlibatan masyarakat lokal, menghormati hak-hak adat, serta memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi warga setempat.

Ia pun mengajak masyarakat untuk menonton film tersebut secara kritis dan proporsional. “Film dokumenter ini bukan kitab suci. Realitas di Papua lebih kompleks, ada yang menolak tetapi banyak juga warga lokal yang mendukung dan menaruh harapan pada proyek ini,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Pastikan Program Pembinaan Remaja, Wali Kota Bogor Tinjau Barak Militer di Yonif 315