DEPOK, INDORAYA TODAY – Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, mempercepat budaya pengelolaan sampah dari sumbernya melalui gerakan memilah sampah rumah tangga.

Program itu diarahkan agar warga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pengangkutan sampah menuju UPS maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.

“Lewat komposter, warga mengelola sampah organik secara mandiri di rumah,” kata Lurah Duren Seribu Ahmad Sabani, dikutip Kamis (16/7/2026).

Menurut Sabani, keberhasilan menjaga kebersihan lingkungan sangat bergantung pada pengelolaan sampah sejak dari hulu.

Ia mengatakan, karena kapasitas pengangkutan sampah masih menghadapi berbagai keterbatasan, masyarakat perlu memiliki solusi di tingkat rumah tangga.

“Kami mengejar setiap rumah memiliki komposter sebagai budaya baru,” ujarnya.

Kelurahan Duren Seribu pun terus mengedukasi warga memanfaatkan wadah sederhana, seperti bekas ember atau kaleng cat berukuran sekitar 25 kilogram.

Wadah tersebut dilubangi pada beberapa bagian, kemudian ditanam di tanah agar mampu mengurai sampah organik menjadi kompos.

Kompos yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan warga untuk menanam pohon, tanaman hias, maupun sayuran di pekarangan rumah.

Menurut Sabani, cara tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kompos sendiri membuat warga lebih semangat merawat lingkungan sekitar,” ucapnya.

Sementara sampah anorganik diarahkan untuk dipilah dan disalurkan ke bank sampah, pengepul rongsok, atau didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomi.

Di RW 1, kata Sabani, sudah tersedia bantuan CSR dari FIF Group berupa mesin pengolah plastik kresek menjadi conblock.

Peralatan tersebut tinggal menunggu operasional sebelum diluncurkan sebagai proyek pengolahan sampah plastik di wilayah tersebut.

Selain itu, pihaknya juga mengajukan dukungan kepada Wahid Foundation untuk pengadaan mesin pencacah plastik sebagai pengembangan program daur ulang.

BACA JUGA:  Cing Ikah Ungkap Potensi Kolaborasi Depok dan Banten

Ahmad menilai pengelolaan sampah organik secara mandiri akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan beban sampah di TPA Cipayung.

Ia menyebut masyarakat juga akan memperoleh manfaat psikologis karena dapat menikmati hasil tanaman yang tumbuh menggunakan kompos buatan sendiri.

Saat ini, gerakan pengelolaan sampah tersebut telah berjalan di RW 10, RW 11, RW 3, serta sebagian RW 4.

Ke depan, Kelurahan Duren Seribu akan memprioritaskan edukasi di kawasan perumahan yang lahannya terbatas dan masih bergantung pada pengangkutan sampah.

Menurut Ahmad, komposter lebih mudah diterapkan dibandingkan budidaya maggot karena dapat digunakan setiap rumah dengan lahan sempit.

“Pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat juga terus dilakukan agar pengelolaan sampah mandiri berkembang menjadi budaya baru di Duren Seribu,” tuntasnya. (Ihsan Ramdhani)