INDORAYATODAY.COM – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tak sekadar menjadi alat penunjang pekerjaan, melainkan mulai beralih fungsi menjadi teman curhat bagi sebagian orang yang merasa kesepian atau menghadapi masalah emosional.

Respons yang cepat, fleksibel, serta selalu siap sedia kapan saja membuat interaksi dengan chatbot terasa kian personal. Namun, fenomena kecanduan curhat ke AI ini mulai disoroti para peneliti psikologi dan ilmu perilaku.

Studi yang diterbitkan Nature Human Behaviour (2026) mengungkapkan bahwa pengguna dengan jaringan sosial terbatas cenderung menjadikan AI sebagai teman bicara utama.

Pola penggunaan yang terlalu intensif dan personal ini berikatan erat dengan penurunan tingkat kesejahteraan psikologis serta meningkatnya rasa kesepian.

Penelitian lanjutan dari MIT Media Lab dan OpenAI juga menunjukkan bahwa durasi penggunaan harian chatbot yang makin lama berisiko memicu ketergantungan emosional dan menurunkan frekuensi interaksi nyata dengan sesama manusia.

Meski teknologi AI mampu memformulasi kalimat yang terdengar sangat empatik, riset menegaskan bahwa respons bernuansa manusiawi tetap tidak dapat menggantikan kehangatan emosional dan dukungan nyata dari hubungan interpersonal antarmanusia.

BACA JUGA:  AI Ancam Pekerjaan Digital, Ini 10 Profesi Paling Rentan Tergusur pada 2026