DEPOK, INDORAYATODAY.COM – Nasib tragis dan memilukan menimpa seorang siswi SMP di Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok.
Korban yang masih di bawah umur ini mengalami perundungan atau bullying parah dari teman-teman sekolahnya.
Bukannya mendapat perlindungan, korban justru menerima perlakuan diskriminatif dari oknum guru di sekolahnya.
Ibu korban, DH, mengungkapkan kekecewaan yang sangat mendalam atas tindakan tidak manusiawi tersebut.
Dia menyebut mental putrinya hancur total akibat aksi perundungan yang terus berulang di sekolah.
“Bukannya melindungi, pihak sekolah malah menyudutkan anak saya,” ujar DH kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).
Aksi bullying berawal saat rahasia masa lalu korban disebarkan oleh rekannya di lingkungan sekolah.
Informasi privat yang amat sensitif itu sengaja dijadikan bahan ejekan dan senjata untuk mengintimidasi korban.
Sikap oknum guru dan manajemen sekolah justru kian memperkeruh serta memperparah kondisi psikologis korban.
Bukannya memanggil konselor atau menindak para pelaku, oknum guru malah menyidang korban di depan kelas.
Tak berhenti di situ, korban juga diminta secara sepihak untuk keluar dari sekolah tersebut.
Perlakuan intimidatif itu membuat mental siswi SMP Depok tersebut jatuh hingga mengalami depresi berat.
Bahkan, korban tercatat sempat beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya akibat tekanan luar biasa.
Kota Depok yang digadang-gadang sebagai Kota Layak Anak kini kembali tercoreng oleh insiden kelam ini.
Sistem pengawasan sekolah di Depok dinilai gagal total dalam memberikan ruang aman bagi anak didik.
DH mendesak Dinas Pendidikan Kota Depok dan instansi terkait segera menjatuhkan sanksi tegas kepada oknum guru.
Upaya hukum yang ditempuh keluarga ke kepolisian juga masih menemui jalan buntu karena dinilai kurang bukti.
Saat ini, keluarga merasa berjuang sendirian demi menuntut keadilan bagi masa depan sang buah hati.
Sementara itu, Kepala Sekolah tempat korban belajar, MH, mengklaim permasalahan tersebut sudah diselesaikan.
“Sudah diselesaikan dengan Dinas. Saat ini anaknya di rumah, sudah tidak ke sekolah,” kata MH singkat.
Rencananya, korban akan dipindahkan ke sekolah lain pada semester berikutnya untuk melanjutkan pendidikan.

Tinggalkan Balasan