INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Sebanyak 120 anak dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengikuti Bionix Robotic & Coding Competition III yang digelar di Living World Kota Wisata Cibubur.

Kompetisi bertema “Journey to Jurassic World” tersebut mengajak peserta mengembangkan kemampuan merakit robot, menyusun program komputer, serta memecahkan masalah melalui tantangan yang dikemas dengan konsep petualangan dinosaurus.

Selain menguji kecepatan, perlombaan ini menitikberatkan pada ketelitian, kemampuan berpikir logis, dan kemandirian peserta dalam menyelesaikan setiap tantangan.

Ketua Pelaksana Bionix Competition III, Syaripuddin Syoffan, mengatakan tema dinosaurus dipilih untuk membuat pembelajaran teknologi lebih menarik bagi anak-anak.

Menurutnya, ketertarikan anak terhadap dinosaurus dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan robotika dan pemrograman sejak dini.

Bionix Competition III mencatat 121 pendaftaran yang tersebar dalam sejumlah kategori berdasarkan jenjang pendidikan dan jenis tantangan.

Kategori Explorer untuk siswa SD kelas 1–3 menjadi yang paling diminati dengan jumlah pendaftar lebih dari separuh keseluruhan peserta.

Selain Explorer, kompetisi ini menghadirkan kategori Foundation untuk anak TK, Creator bagi siswa SD kelas 4–6, Junior Coding untuk siswa SD kelas 1–3, serta Forklift Mission bagi pelajar SMP kelas 7–9.

Pada kategori Junior Coding yang mengusung konsep “Dino Coding Adventure”, peserta ditantang membuat animasi interaktif menggunakan karakter Bibot untuk menjelaskan berbagai jenis dinosaurus.

Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknologi, tetapi juga dilatih mengembangkan kreativitas dan kemampuan menyusun program.

Untuk menjaga objektivitas perlombaan, panitia menerapkan sistem penilaian berdasarkan waktu penyelesaian dan jumlah kesalahan peserta.

Nilai akhir dihitung menggunakan formula waktu dasar ditambah penalti.

Setiap tiga kesalahan perakitan dikenai tambahan waktu 10 detik. Penalti dengan durasi yang sama juga diberikan untuk setiap komponen yang tidak digunakan.

BACA JUGA:  Ruhut Mengenang Hotma Sitompul: “Kami Bukan Saudara Kandung, Tapi Saudara Sejiwa”

Panitia menyediakan kontainer berisi perangkat dan modul standar yang setara bagi seluruh peserta, termasuk Tech Machines Set, Learn By Doing Machine, dan EV3 Mindstorms.

Proses penilaian melibatkan Syaripuddin Syoffan, S.Pd., dan Maulana Hisyam, S.Kom., sebagai dewan juri yang memiliki pengalaman sembilan tahun di bidang robotika berbasis STEAM.

Hasil rakitan peserta diperiksa melalui tahapan quality check, disertai pencatatan waktu penyelesaian.

Panitia juga menampilkan papan peringkat sementara atau leaderboard secara berkala melalui layar utama agar perkembangan hasil perlombaan dapat dipantau.

Syaripuddin menegaskan, Bionix Competition III tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga pada proses pembelajaran yang dilalui peserta.

Panitia mendorong anak-anak menyelesaikan tantangan secara mandiri tanpa bantuan orang tua di area perlombaan.

“Melalui tantangan ini, kami ingin menanamkan nilai ketelitian, pemecahan masalah (problem solving), kemandirian tanpa bantuan orang tua di area lomba, serta sportivitas. Keberhasilan bukan hanya soal siapa yang tercepat, tetapi bagaimana anak berani mencoba dan belajar dari proses,” ujar Syaripuddin.

Sebagai bentuk apresiasi, setiap peserta mendapatkan Kit Robot Mini untuk melanjutkan eksplorasi teknologi di rumah serta voucher belajar senilai Rp200.000.

Sementara itu, peserta yang berhasil meraih kemenangan memperoleh piala dan sertifikat resmi.

Panitia menyebut hasil kompetisi selanjutnya akan dikurasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) melalui portal SIM-T sebagai bagian dari pencatatan prestasi siswa di bidang sains dan teknologi.

Bionix Competition sendiri merupakan kegiatan tahunan yang berfokus pada pengembangan kreativitas, pembelajaran robotika, dan coding bagi anak-anak hingga remaja melalui semangat “Play & Learn Technology!”.