INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Kualitas udara Jakarta pada Senin pagi tercatat dalam kategori tidak sehat dengan indeks kualitas udara (AQI) 170 dan menempati posisi kedua terburuk di dunia.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 08.00 WIB, polutan utama yang terdeteksi di Jakarta adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 82 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut membuat masyarakat disarankan mengurangi paparan udara luar, terutama ketika kualitas udara sedang memburuk.
IQAir merekomendasikan masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan. Apabila harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dianjurkan untuk mengurangi paparan polusi.
Masyarakat juga disarankan menutup jendela agar udara luar yang tercemar tidak masuk ke dalam ruangan.
Dalam pengelompokan indeks kualitas udara, angka 0-50 masuk kategori baik, sedangkan 51-100 berada dalam kategori sedang. Sementara kualitas udara dengan indeks 200-299 tergolong sangat tidak sehat dan 300-500 masuk kategori berbahaya.
Paparan udara dengan tingkat pencemaran tinggi perlu menjadi perhatian, khususnya bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak polusi.
Pada pemeringkatan kota dengan kualitas udara terburuk, Jakarta berada di posisi kedua pada Senin pagi.
Baghdad, Irak, menempati urutan pertama dengan AQI 178. Posisi Jakarta dengan AQI 170 kemudian diikuti Dhaka, Bangladesh, yang mencatat AQI 166.
Kuala Lumpur, Malaysia, berada di urutan keempat dengan AQI 163, sementara Ho Chi Minh City, Vietnam, menempati posisi kelima dengan AQI 157.
Pemeringkatan tersebut menggambarkan kondisi kualitas udara berdasarkan data yang tercatat pada waktu pemantauan dan dapat berubah mengikuti perkembangan konsentrasi polutan.
Di tengah persoalan pencemaran udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah mempersiapkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) kualitas udara.
Sistem tersebut dikembangkan untuk menghasilkan prediksi kondisi polusi udara yang lebih akurat sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mengurangi dampak pencemaran.
Keberadaan EWS diharapkan membantu masyarakat memperoleh informasi lebih awal ketika kualitas udara diperkirakan memburuk.
Informasi tersebut terutama penting bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat asma dan gangguan pernapasan lainnya.
Dengan prakiraan yang lebih mudah diakses, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan, mulai dari membatasi aktivitas fisik di ruang terbuka, menggunakan masker ketika berada di luar ruangan, hingga mengurangi paparan terhadap udara tercemar.

Tinggalkan Balasan