INDORAYATODAY.COM, BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi berencana menutup dua pelintasan sebidang kereta api setelah Flyover Bulak Kapal rampung dibangun. Salah satunya adalah Pelintasan Ampera.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan kereta api.
Rencana itu disampaikan Tri saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau lokasi proyek di Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Jumat (30/10/2026).
Tri menilai penutupan pelintasan sebidang diperlukan untuk memberikan perlindungan lebih baik kepada masyarakat.
“Rasanya harusnya ditutup, ya. Jadi nanti ada dua pelintasan yang kami tutup karena lebih meyakinkan memberikan perlindungan kepada warga masyarakat,” kata Tri.
Sebagai pengganti akses Pelintasan Ampera, Pemkot Bekasi merencanakan pembangunan jalan frontage yang menghubungkan Bulak Kapal, Ampera, dan Jalan Mohammad Yamin.
“Sehingga orang ke Ampera pun kalau memang memaksakan harus lewat flyover, kami sudah siapkan jalan alternatifnya,” ujarnya.
Sebelum pembangunan dimulai, Pemkot Bekasi masih harus menyelesaikan pembebasan lahan.
Dari 76 bidang tanah yang dibutuhkan, sebanyak 40 bidang telah berstatus clear and clean, sementara 36 bidang lainnya masih menjalani proses pembayaran.
Sebagian lahan tersebut merupakan aset Perum Jasa Tirta, Kementerian Sosial, serta fasilitas sosial dan fasilitas umum.
Pemkot Bekasi terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat penyelesaian pembebasan lahan.
AHY menjelaskan, Flyover Bulak Kapal diperlukan untuk mengurangi kemacetan sekaligus meningkatkan keselamatan lalu lintas.
Menurutnya, frekuensi perjalanan KRL yang mencapai setiap lima menit membuat kendaraan kerap tertahan di pelintasan.
“Jadi ini adalah solusi untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa sekaligus untuk mengurai bottleneck atau kemacetan yang ada di Bulak Kapal ini, sehingga perlu dibangun flyover,” kata AHY.
Proyek sepanjang sekitar 500 meter tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran pembangunan Rp188 miliar, sedangkan pembebasan lahan sebesar Rp126 miliar ditanggung Pemkot Bekasi.
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Roy Rizali menyebut pembangunan direncanakan mulai November 2026 dengan durasi 16 bulan.
“Mudah-mudahan kita bisa lakukan percepatan, lahan selesai, utilitas selesai, kita coba lakukan percepatan-percepatan,” ujar Roy.
Percepatan proyek ini mengemuka setelah kecelakaan KRL Cikarang PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek pada 27 April 2026.
Insiden tersebut mengakibatkan 123 penumpang KRL menjadi korban, terdiri atas 16 orang meninggal dunia dan 107 luka-luka. Sementara itu, seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.

Tinggalkan Balasan