INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji ulang sasaran penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun 2027. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya refocusing atau penajaman target penerima agar program intervensi gizi dinilai lebih tepat sasaran.
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, mengatakan evaluasi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai masukan dari kementerian terkait, termasuk Kementerian Kesehatan.
Fokus Intervensi Gizi pada Kelompok Prioritas
Menurut Arumsari, pemerintah saat ini sedang menelaah kembali kelompok penerima manfaat berdasarkan kebutuhan intervensi gizi yang paling mendesak.
Ia menjelaskan, Kementerian Kesehatan menilai upaya perbaikan gizi sebaiknya difokuskan sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, dengan beberapa kementerian yang lain,” kata Arumsari usai rapat tertutup bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (16/6/2026).
Berdasarkan pertimbangan tersebut, BGN mulai melakukan simulasi berbagai skenario untuk memfokuskan penerima manfaat tanpa mengurangi tujuan utama program.
“Lalu sampai dengan 2 tahun nanti ada intervensi gizi, lalu sampai dengan usia selanjutnya. Bentuknya pemenuhan gizi,” ujarnya.
Arumsari menegaskan bahwa refocusing dilakukan dengan mempertimbangkan rekomendasi para ahli dan kebutuhan kelompok yang dinilai paling membutuhkan dukungan gizi dari pemerintah.
Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah kemungkinan mengeluarkan siswa SMA dari daftar penerima manfaat MBG.
Menurut Arumsari, langkah tersebut masih berupa simulasi yang bertujuan mengarahkan anggaran kepada kelompok yang dianggap lebih membutuhkan intervensi gizi.
“Misalnya contoh gampang, untuk SMA mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA yang uang sakunya sudah Rp100.000 sampai Rp200.000, yang high class itu tidak perlu lagi,” katanya.
Ia mengungkapkan, apabila kelompok siswa SMA tidak lagi masuk dalam sasaran program, jumlah penerima manfaat MBG dapat berkurang sekitar 8 juta orang.
Meski demikian, Arumsari menegaskan pemerintah tidak akan menghilangkan esensi program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
“Nah, itu yang kami exercise. Tapi kami tidak menghilangkan esensi dari intervensi gizi yang dilakukan pemerintah. Jadi refocusing diperlukan supaya lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Saat ini program MBG menyasar berbagai kelompok penerima manfaat, mulai dari peserta didik, santri, ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga kelompok lanjut usia yang masuk dalam perluasan sasaran program.
Untuk tahun 2027, Kementerian Keuangan dan Bappenas telah menetapkan pagu indikatif MBG sebesar Rp270,2 triliun dengan target penerima manfaat mencapai 81,5 juta orang.
“Menurut surat dari Kementerian Keuangan dan Bappenas, untuk 2027 sebenarnya kami mendapat pagu indikatif Rp270,2 triliun untuk penerima manfaat 81,5 juta,” kata Arumsari.
BGN menyatakan evaluasi terhadap sasaran penerima manfaat akan terus dilakukan seiring upaya penyempurnaan pelaksanaan program pada tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan