INDORAYATODAY.COM — Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan berat akibat gejolak ekonomi global dan eskalasi ketidakpastian geopolitik.
Kendati demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis rupiah tidak akan terperosok hingga menembus level Rp 19.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Airlangga menegaskan bahwa keyakinan tersebut berlandaskan pada kondisi indikator makroekonomi Indonesia yang masih terjaga solid di tengah tekanan eksternal.
“Ya, kita lihat saja, tetapi kami lebih optimistis (rupiah tidak tembus Rp 19.000 per dolar AS). Kami optimis dengan kondisi makroekonomi kita,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah menguat tipis 0,08% ke level Rp 18.184 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada penutupan hari sebelumnya berada di posisi Rp 18.183 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pergerakan mata uang kawasan masih dibayangi konflik di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut melambungkan harga minyak dunia hingga di atas US$ 115 per barel serta memicu penguatan index dolar AS.
“Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko fiskal ke depan, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Maraknya sentimen risk-off memicu arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang,” terang Erwin.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap mata uang Garuda juga diperberat oleh spekulasi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, serta tingginya lonjakan kebutuhan valuta asing (valas) korporasi menjelang akhir bulan.
Meski terdepresiasi 1,15% secara bulanan, BI mencatat pergerakan rupiah masih relatif sejalan dengan dinamika mata uang negara-negara di kawasan Asia.
Guna menahan pelemahan lebih jauh, Bank Indonesia mengandalkan ketahanan cadangan devisa yang tercatat masih tebal sebesar US$ 146,3 miliar per akhir September 2026.
BI juga secara konsisten melakukan langkah intervensi dan stabilisasi ganda (dual intervention) melalui transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), transaksi di pasar spot, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait untuk memastikan nilai tukar tetap bergerak sesuai fundamentalnya,” tegas Erwin.

Tinggalkan Balasan