INDORAYATODAY.COM – Pejabat pemerintah Turki menilai laporan mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat KTT NATO di Ankara merupakan bentuk rekayasa intelijen Israel.
Rekayasa tersebut diduga sengaja dirancang untuk menggagalkan diplomasi dan pembicaraan damai antara Iran dan AS.
Mengutip laporan Middle East Eye (MEE), klaim intelijen Israel tersebut disampaikan kepada Dinas Rahasia AS (US Secret Service) guna meyakinkan mereka bahwa ada ancaman serangan terhadap Trump saat menghadiri KTT NATO di Ankara pada Juli lalu.
“Tentu saja kami menanggapi laporan itu dengan sangat serius dan mencoba membantu rekan-rekan Amerika sebisa mungkin. Namun, sangat jelas bagi kami bahwa laporan ini sama sekali tidak benar,” ujar salah satu sumber pejabat Turki, dilansir Press TV, Kamis (13/8/2026).
Para pejabat Turki menilai, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beserta timnya berusaha merusak upaya Trump dalam mencapai kesepakatan damai.
Salah satu poin krusial dalam perundingan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang ditutup oleh Iran sejak konflik bersenjata pecah.
Lewat klaim ancaman tersebut, Israel diduga ingin merekayasa citra sebagai pihak yang melindungi keselamatan Presiden AS, sekaligus memperkeruh hubungan diplomatik antara Ankara dan Teheran.
“Isu rencana pembunuhan di Ankara ini berpotensi merusak hubungan Turki dan Iran yang selama ini dijaga dalam kondisi relatif stabil sejak serangan AS-Israel ke Iran dimulai,” jelas pejabat tersebut.
Sebelumnya, otoritas Iran sempat menyampaikan apresiasi secara terbuka kepada Turki atas perannya dalam mencegah skenario AS-Israel yang berupaya memicu kerusuhan di wilayah perbatasan Iran yang didominasi etnis Kurdi.

Tinggalkan Balasan