INDORAYATODAY.COM, SORONG SELATAN – Perubahan pola konsumsi masyarakat di Papua mendorong kebutuhan akan sumber pangan yang lebih beragam. Di tengah kondisi tersebut, program Cetak Sawah Rakyat (CSR) yang dijalankan pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendapat sambutan positif dari para petani yang melihatnya sebagai peluang memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Kampung Tokas, Distrik Moswaren, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Markus Homer, mengatakan masyarakat menyambut baik program pembukaan lahan sawah seluas 3.700 hektare di wilayahnya.

Markus yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani Rata Jaya menilai pemanfaatan lahan baru dan optimalisasi lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Menurut dia, keberadaan sawah baru memberikan harapan bagi masyarakat Papua untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

“Jadi kami sangat luar biasa antusias dengan program yang diturunkan oleh Presiden kepada kami orang Papua. Kami sangat senang karena pangan ini, bagi kami masyarakat, untuk kehidupan kami masyarakat ke depan,” ujar Markus.

Markus mengungkapkan, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat turut memengaruhi kebutuhan pangan. Menurut dia, generasi muda Papua kini semakin akrab dengan konsumsi beras sebagai makanan pokok.

Selain itu, perubahan pola pengelolaan lahan juga menjadi alasan pentingnya pengembangan sawah permanen. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa berpindah lokasi berkebun dalam kurun waktu tertentu, kini pola tersebut semakin sulit diterapkan sehingga lahan sawah dinilai menjadi solusi yang lebih berkelanjutan.

“Di Sorong Selatan kami menerima 3.700 hektare lahan yang sudah dikerjakan pada 2025. Pada 2026 kami siap melakukan penanaman,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Kampung Molase, Distrik Klamono, Papua Barat Daya, Elias R. Semih. Sebagai pemilik tanah adat di wilayah pelaksanaan program, ia menilai masyarakat menerima program tersebut dengan baik karena diyakini dapat memberikan dampak terhadap perekonomian warga.

BACA JUGA:  Panen Raya Karawang, Prabowo Sentil Elite yang Menyangkal Keberhasilan Bangsa

“Program ini diterima dan dikelola oleh masyarakat supaya ekonomi mereka itu ada perubahan,” ujar Elias.

Ia menilai pengembangan lahan sawah tidak hanya berperan dalam memperkuat ketersediaan pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat di tingkat kampung.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Teguh Apmin Kampung Swentab, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Rizal Beno, menyebut program CSR telah memberikan manfaat nyata bagi petani.

Kelompok taninya memperoleh alokasi cetak sawah seluas 50 hektare, dengan sekitar 5 hektare di antaranya telah mulai ditanami. Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat melengkapi dukungan sarana pertanian, khususnya peralatan panen yang hingga kini masih belum tersedia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah akan terus memperkuat pembangunan sektor pertanian di Papua sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional.

Dalam dua tahun terakhir, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk mendukung pengembangan pertanian di wilayah tersebut. Pemerintah juga menargetkan pengembangan cetak sawah seluas 80.000 hektare di Papua sepanjang 2025 hingga 2026 yang didukung penyediaan alat dan mesin pertanian modern.

Menurut Amran, berbagai kebutuhan yang disampaikan petani dan pemerintah daerah, mulai dari traktor, irigasi hingga perluasan areal sawah, terus ditindaklanjuti guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita ingin Papua mandiri pangan dan mandiri energi ke depan. Hampir 90 persen permintaan yang disampaikan hari ini sudah kami penuhi, dan jika progresnya baik akan kami penuhi seluruhnya,” kata Amran.